Arab Spring in Suriah


Arab Spring in Suriah
Oleh
Dhaniel Deva Afrian
Dengan Referensi utama Arab Spring and Sectarian Faultlines in West Asia : Bahrain Yemen and Syria karya Prasanta Kumar Pradhan


Pendahuluan
The Arab Spring atau Musim semi arab merupakan sebuah bahasa politik yang mulai dikenal di politik internasional di tahun 2011. Bahasa Politik ini menggambarkan kejatuhan beruntun rezim pemimpin-pemimpin otoriter dunia arab yang dimulai dari Zein Al Abidin Ben Ali (Tunisia) kemudian Hosni Mubarak pemimpin Mesir, hingga menimpa pemimpin Libya Moammar Khadafy, bahkan Yaman, Bahran dan Suriah. Keotoriteran kepala negara merupakan salah satu faktor yang menyebabkan musim semi melanda Dunia Arab, kondisi ekonomi yang menurun dan meningkatnya jumlah pengangguran akibat kurangnya lapangan kerja juga dianggap sebagai penyebab.
Rakyat Arab sendiri menyebut kondisi ini dengan al Tsaurat Al=Arabiyah yang bermakna revolusi yang akan merubah tatanan masyarakat bangsa ideal setelah sekian lama dipimpin oleh pemimpin otoriter dengan kekuasaan yang tidak dibatasin dan mengkengkang masyrakat hingga menciptakan gap yang sangat jauh antara masyarakat kaya dan miskin.
Arab Spring yang melanda suriah bermula dari gelombang protes yang terjadi di provinsi Derra pada Maret 2011, aksi protes ini awalnya dilakukan oleh para orang tua yang anaknya diculik oleh aparat polisi di wilayah itu. Awalnya anak-anak yang diculik menuliskan kalimat As Shaab Yoreed Eskaat en Nizam yang artinya Rakyat ingin dan menumbangkan Rezim, Tulisan itulah yang kemudian dianggap sebagai awal protes di suriah. Kejadian di Derra akhirnya memicu gelombang protes di wilayah lain. Ketidakpercayaan masyarakat Suriah semakin bertambah dan berkeingingan menggulingkan rezim Bashar Al Ashad.
Faktor lain yang menyebabkan Suriah mengalami musim semi adalah karena Bashar al-ashad telah memimpin Suriah dengan otoriter semenjak tahun 2000, selama 11 tahun pemerintah Ashad memerintah Suriah dengan Otoriter dan Ashad membangun Rezim Politik dengan hanya satu partai, Alasan lainya adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia di Suriah sudah banyak dan memakan korban jiwa.

Aktor
Di Suriah Arab Spring melibatkan Minoritas Alawi (Kelompok Syiah) yang saat itu sedang memimpin Suriah, dan kelompok Sunni yang merupakan pihak oposisi kedua kelompok merupakan salah satu aktor penting dalam fenomena Arab Spring di Suriah, bahkan Fenomena ini ikut melibatkan aktor di luar suriah seperti Iran, Faksi Hebbolah hingga Rusia yang mendukung Bashar Al Assad (Minoritas Alawi) sedangkan pihak oposisi didukung Turki. Bahkan, kemudian muncul kelompok baru yaitu Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) yang menguasai wilayah-wilayah perbatasan antara Irak dan Suriah yang tidak hanya menentang rezim Syiah di Syria dan Irak, namun juga berkonflik dengan kelompok-kelompok bersenjata Sunni yang tidak sejalan dengan garis perjuangan ISIS.
Gelombang Arab Spring di Suriah menimbulkan krisis politik di negara tersebut hingga menyebabkan terjadinya perang saudara anatar militer pro assad dengan milisi bersenjata. Dalam Kondisi diatas pihak pemberontak yakni militan islam tidak mampu memaksimalkan dukungan yang diberikan oleh pihak barat dalam melawan rezim otoriter Bashar Al Ashaad. Konflik terjadi di berbagai daerah di suriah seperti Derra di wilayah Selatan, Latakia dan Banias di wilayah sepanjang pantai Mediterania, Homs, Hama di bagian Barat, Deir Az-Zour di bagian Timur, dan Aleppo kota kedua terbesar di Suriah.
Gelombang Arab Spring di Suriah telah menelan korban sebanyak 250.000 Jiwa, Bahkan Menurut Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 7,6 juta warga Suriah menjadi pengungsi di negara mereka sendiri dan 4,2 juta mengungsi ke sejumlah negara di sekitar Suriah. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebutkan, 893.970 orang di antaranya mengalir ke Eropa. Arab Spring juga melibatkan negara-negara di Eropa ikut berpartisipasi dalam menerima korban-korban perang di suriah atas akibat Arab Spring.

Transisi Suriah setelah Arab Spring
Suriah merupakan salah satu negara di arab yang termasuk memiliki perkembangan yang stabil namun karena negara ini dipimpin oleh sekelompok orang yang sifat nepotismenya hadir disetiap lapisan pemerintahan suriah dan bahkan kelompok ini memiliki sikap penindasan terhadap lawan politiknya yang sangat jauh dari landasan peri kemanusiaan berubah menjadi salah satu negara yang paling tidak stabil, penuh kerusakan, ladang dari ekstremisme.
Namun memiliki sepercik harapan akan terbentuknya sebuah negara yang demokratis atas hadirnya Arab Spring di negara ini. Di Suriah fenomena Arab Spring seperti menjadi Power Struggle ikut campurnya Aliansi Amerika Serikat hingga Rusia merupakan bukti bahwa Power Struggle di negara ini sangatlah masif. Penggulingan Rezim yang belum berhasil menciptakan sebuah permasalahan baru di negara ini, Hingga akhirnya Arab Spring disebut memperburuk kondisi di Suriah.
Suriah dinilai gagal dalam mencontoh Tunisia dalam menggulingan rezim yang damai ataupun Libya dan Mesir yang cepat dalam menggulingkan pemerintah yang otoriter. Keterlibatan Russia di dalam konflik di Suriah semakin membuat Suriah gagal dalam menggulingkan Ashaad, Kedua negara itu secara diplomatik dan militeristik membela rezim Bashar al-Assad. Faktor lain yang menyebabkan Rusia terlibat dalam mendukung Ashaad adalah karena Suriah adalah benteng terakhir Rusia di Timur Tengah, Di Suriah, Rusia memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus, bahkan sejak masa Uni Soviet, dan semakin membesar dalam tahun-tahun belakangan ini. Rusia juga punya pangkalan udara di Hmeimim, Latakia. Jadi, apabilah Rusia kehilangan Suriah, maka Negara ini  tidak punya keberadaan dan pengaruh diplomatis di Timur Tengah.
Konflik di Suriah sangatlah kompleks sebab Pemberontak dapat terklarifikasi menjadi berbagai macam jenis ideologi. Ekstremis seperti ISIS yang independen dan Hayat Tahrir Al Sham yang di dukung oleh Al Qaeda, kelompok kelompok moderat (Free Syrian Army) yang di selatan (di dukung AS) dan di utara (di dukung Turki),  Partai Rakyat Kurdistan, serta Pemerintah Bashar Al Assad saling bertempur satu dengan yang lainnya semakin memperparah konflik yang terjadi di Suriah.
Semenajak awal Arab Spring datang ke Suriah Elit pemerintahan mengalami perpecahan, dengan mayoritas memilih untuk melakukan penyerangan terhadap para demonstran. Akibatnya, kampanye militer oleh pasukan Suriah ditujukan untuk meredam para demonstran yang berbasis di kota di seluruh negeri. Kekerasan yang terjadi direspon oleh pemerintah dengan mengerahkan kekuatan militer terhadap lawan politik. Komite Koordinasi Lokal dibentuk untuk menawarkan perlindungan terhadap masyarakat atas berlangsungnya krisis politik, namun tidak mampu mencegah terjadinya perang saudara di Suriah. Kerusakan Konflik akibat hadirnya Arab Spring di Suriah semakin menguatkan pertanyaan apakah Arab Spring membawa dampak positif bagi Suriah? Atau malah memperburuk kondisi Suriah. Namun Arab Spring sedikit membawa dampak positif karena membuat terjadinya kemungkinan perubahan status quo di Suriah. Pemerintahan Bashar Al Assad dengan catatan kejahatan perangnya dapat di tuntut di pengadilan internasional, baik dia kalah atau menang di dalam perang ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Outline Penelitian Hubungan Internasional Universitas Lampung

Review Jurnal and Cosmopolitan Democracy : Bridging the gap between propopents and opponets karya Christos A. Frangonikolopoulos

The Idea of the National Interest